Peningkatan Kualitas SDM Disebut akan Menarik Banyak Investasi

Gervin Nathaniel Purba    •    09 Oktober 2018 18:43 WIB
Peningkatan Kualitas SDM Disebut akan Menarik Banyak Investasi
Menaker Hanif Dhakiri (Foto:Dok.Kemenaker)

Bali: Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Indonesia dapat menarik lebih banyak investasi dan memperkuat daya saing produk lokal. Oleh karena itu, menjadi tugas pemerintah untuk memastikan ketersediaan tenaga kerja berkualitas.

"Kita harus dapat memastikan ketersediaan tenaga kerja berkualitas dengan memaksimalkan informasi pasar tenaga kerja, standar kompetensi kerja, akreditasi, dan sertifikasi," kata Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M Hanif Dhakiri, saat membuka Rapat Koordinasi Bidang Pelatihan dan Produktivitas di Bali, Selasa, 9 Oktober 2018.

Untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja, pada dasarnya ketersediaan tenaga kerja harus selalu selaras dengan kebutuhan pasar kerja yang dipengaruhi pertumbuhan ekonomi dan sektor prioritas yang diputuskan oleh pemerintah.

"Kita gerakkan semua institusi akademik yang ada seperti universitas; lembaga pendidikan kejuruan seperti SMK, Politeknik, dan lembaga pelatihan kejuruan seperti BLK; dan LPK pemerintah/swasta/industri lainnya untuk meningkatkan kualitas SDM," katanya.

Hanif menjelaskan, situasi pasar tenaga kerja Indonesia kini berkembang dengan cara yang positif berkat pembangunan ekonomi. Tingkat partisipasi angkatan kerja meningkat menjadi 69,20 persen pada Februari 2018.

"Pada saat yang sama, tingkat pengangguran kita sekarang mencapai titik terendah dalam sejarah bangsa Indonesia, yaitu 5,13 persen. Semoga akan terus turun pada masa mendatang," ujar Hanif.

Selain itu, jumlah pekerja dengan keterampilan menengah dan tinggi jumlahnya juga terus meningkat sekitar tiga persen setiap tahun, selama empat tahun terakhir.

Hanif mengutip pernyataan Presiden Joko Widodo yang mengatakan bahwa setelah memusatkan percepatan pembangunan infrastruktur di 2015-2017, sekarang Indonesia fokus pada pengembangan sumber daya manusia (SDM) di pendidikan dan pelatihan kejuruan (Vocational Education and Training) pada 2018-2019. 

"Hal ini menstimulasi tidak hanya kementerian dan lembaga terkait untuk berpikir lebih visioner dari sebelumnya, tetapi juga mendorong sektor swasta untuk lebih terlibat aktif dalam mempersiapkan suplai tenaga kerja kita secara masif," tutur Hanif.
(ROS)

Baca Juga